Sedekahnya Para Shalihin Terbaik.

.by Yusuf Mansur Network on Friday, May 20, 2011 at 10:11pm.

Abu Thalhah, demikian namanya, suatu saat ia pernah bersedekah kepada seorang musafir dengan cara yang teramat luar biasa.

Petang itu, datanglah seorang musafir ke Masjid Nabawi, ia kelaparan, lalu ia mengatakannya kepada Rasulullah, lalu Rasulullah pun berkata kepada para sahabat, “Siapa yang bersedia menjamu tamuku ini, insya Allah akan mendapat rahmat-Nya,” sabda Rasulullah. Hal itu disampaikan karena beliau hanya mempunyai air minum untuk tamunya. Maka, Abu Thalhah pun bersedia. Lalu Abu Thalhah pun bergegas ke rumahnya, ditanyanya kepada istrinya, “Adakah makanan untuk tamuku ini?” Istrinya berkata, “Hanya ada sedikit, ini pun untuk anak-anak kita.” Mengetahui keadaan yang demikian, maka Abu Thalhah membuat sebuah strategi.

Pada malam harinya, diajaklah musafir itu ke rumahnya, lalu ia berbincang-bincang dengan tamunya itu sembari istrinya menyiapkan makanan. Ketika itu, anak-anak Abu Thalhah sudah ditidurkan dengan keadaan lapar. Lalu tibalah sang istri membawa makanan, lalu ia mematikan lilin yang menerangi ruangan tersebut. Disodorkanlah piring dengan makanan kepada si musafir sementara satu piring lagi yang ternyata kosong kepada Abu Thalhah. Dalam keadaan gelap, si musafir itu makan dengan lahapnya, sementara Abu Thalhah berpura-pura sedang makan (karena akan tidak baik apabila seorang tamu makan sementara tuan rumahnya tidak ikut makan). Malam itu, si tamu pun beristirahat di sana dengan perut kenyang, sementara Abu Thalhan dan keluarga tidur dengan kondisi lapar.

Keesokan harinya, bergegaslah Abu Thalhah ke Masjid Nabawi untuk shalat, lalu bertemulah dengan Rasulullah, dengan tersenyum, Rasulullah berkata, “Ketahuilah Allah terpesona dengan yang kau lakukan bersama istrimu semalam.” Beliau lalu membacakan ayat yang termaktub dalam surat Al-Hasyr ayat 9,

 “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (Q.S. Al-Hasyr[59] : 9)

Abdurrahman ibn ‘Auf pun memulai usahanya di Madinah dengan tangan kosong. Mulanya hanya sebagai kuli angkut, lalu sebagai makelar, hingga menjadi pedagang terjujur dan tesukses di sana. Ia menghancurkan kelicikan timbangan di pasar itu dengan kejujuran Islam. Tepat 1 bulan kemudian beliau bergegas menemui Nabi, kini dengan diri sebagai pedagang yang jujur dan sukses, berkata dengan tersipu bahwa ia akan menikah.

Lalu, teramat rutin pula baginya untuk berinfaq dalam jumlah yang amat besar, membagikannya ke penduduk Madinah atau untuk membiayai pasukan perang Kaum Muslimin. Bahkan jumlah infaqnya dapat mencapai 40.000 DINAR! Bila dikonversikan ke rupiah, maka pada saat ini bisa mencapai angka 64 MILYAR Rupiah!

Bayangkan saja, 1 kali kesempatan berinfaq, maka 64 MILYAR rupiah telah disedekahkannya.

Subhanallah! “Cukuplah Allah dan Rasul-Nya Bagiku”

Adakah sahabat yang lebih utama dari beliau? Dari segala aspek, beliau memang paling utama, kita tentu sudah dapat menebaknya, Abu Bakr Ash-Shiddiq.

Dalam urusan bersedekah dan berinfaq beliau juga sering melakukannya, saat beliau membeli budak-budak Muslim dari tangan Kafir, ia lalu memerdekakannya -hal yang sangat didambakan para budak-. Selain itu juga pastinya beliau sering bersedekah kepada mereka yang membutuhkan.

Namun, dari semua itu ada di satu kesempatan yang menarik bagi saya, yaitu kisah yang diriwayatkan ‘Umar ibn Khaththab.

Ketika itu, Ummat Islam di Madinah dikepung dari segala penjuru, baik dari dalam dengan berkhianatnya Yahudi Madinah, juga dari luar dengan kafir Quraisy yang bersekutu dengan kaum-kaum lain yang membenci Islam, membutuhkan banyak pengorbanan baik harta maupun jiwa, maka dianjurkanlah oleh Rasulullah untuk beramal menyumbangkan hartanya. Ketika itu Umar datang membawa hartanya, ketika ditanya oleh Rasulullah tentang apa yang ditinggalkan untuknya dan keluarganya, Umar menjawab bahwa ia meninggalkan separuh hartanya untuknya dan keluarganya. Lalu, tak lama kemudian, datanglah Abu Bakr, dan kita ingat sendiri kisah ini, ketika ditanya tentang apa yang ia tinggalkan untuknya dan keluarganya, maka sebuah kalimat tinggi penuh keimanan terlafazhkan dari lisannya, “Cukup bagiku Allah dan Rasul-Nya.” Subhanallah! begitu dahsyatnya beliau, menyumbangkan semuanya demi Islam.

Ya, kalimat itu bagi saya menjadi kalimat yang selalu diingat, diingat sebagai kalimat dengan keimanan tinggi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Arsip dalam Bulan

Kategori

%d blogger menyukai ini: